5/16/2018

Larangan mempersulit/berlebihan dalam beragama.

Larangan mempersulit/berlebihan dalam beragama.


Hadits-hadits Nabi SAW :
عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ ص قَالَ: اِنَّ الدِّيْنَ يُسْرٌ وَلَنْ يُشَادَّ هذَا الدِّيْنَ اَحَدٌ اِلَّا غَلَبَهُ فَسَدِّدُوْا وَ قَارِبُوْا وَ اَبْشِرُوْا وَ اسْتَعِيْنُوْا بِالْغُدْوَةِ وَ الرَّوْحَةِ وَ شَيْءٍ مِنَ الدُّلْجَةِ. البخارى 1: 15
Dari Abu Hurairah, dari Nabi SAW, beliau bersabda, "Sesungguhnya agama (Isam) itu mudah, dan tidaklah seseorang memberat-beratkan agama ini melainkan ia pasti dikalahkannya, Maka berlaku luruslah kalian, berlaku wajarlah (dalam beribadah), bergembiralah, dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) diwaktu pagi dan sore, dan sedikit di waktu malam". [HR. Bukhari juz 1, hal. 15]

عَنْ عَبْدِ اللهِ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: هَلَكَ الْمُتَنَطّعُوْنَ. قَالَهَا ثَلاَثًا. مسلم 4: 2055
Dari ‘Abdullah (bin Mas’ud), ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Binasalah orang-orang yang berlebih-lebihan”. Beliau bersabda demikian tiga kali. [HR. Muslim juz 4, hal. 2055]
عَنْ عِكْرِمَةَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: قِيْلَ لِرَسُوْلِ اللهِ ص: اَيُّ الْاَدْيَانِ اَحَبُّ اِلَى اللهِ؟ قَالَ: الْحَنِيْفِيَّةُ السَّمْحَةُ. احمد 1: 508، رقم: 210?
Dari 'Ikrimah, dari Ibnu 'Abbas, ia berkata : Ada seseorang bertanya kepada Rasulullah SAW, "Agama yang bagaimana yang paling dicintai oleh Allah ?". Rasulullah SAW menjawab, "Yang cenderung kepada kebenaran lagi mudah". [HR. Ahmad, juz 1, hal. 508, no. 2107, dla'if karena di dalam sanadnya ada perawi bernama Dawud bin Al-Hushain, ia munkarul hadits]

4/10/2018

Memberi Nafqah Kepada Keluarga

Memberi Nafqah Kepada Keluarga

Seorang ayah bertanggungjawab memberikan nafqah bagi anak-anak dan keluarganya, sedang ibu bertanggungjawab mengasuh anak-anak dan mengatur rumah tangga sebagai wakil dari suaminya. Tentang berapa besarnya nafqah untuk anak dan keluarganya ini Islam tidak menentukan secara khusus, hal ini terserah pada kemampuan masing-masing.
Firman Allah SWT :
اَلرّجَالُ قَوَّامُوْنَ عَلَى النّسَآءِ بِمَا فَضَّلَ اللهُ بَعْضَهُمْ عَلى? بَعْضٍ وَّ بِمَآ اَنْفَقُوْا مِنْ اَمْوَالِهِمْ. النساء : 34
Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena laki-laki telah menafqahkan sebagian dari harta mereka ...... . [QS. An-Nisaa' : 34]
وَ عَلَى الْمَوْلُوْدِ لَه رِزْقُهُنَّ وَ كِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوْفِ. البقرة : 233
Dan bagi ayah berkewajiban memberi nafqah dan memberi pakaian kepada ibu (dan anaknya) dengan cara yang ma'ruf. [QS. Al-Baqarah : 233]
لِيُنْفِقْ ذُوْ سَعَةٍ مّنْ سَعَتِه، وَ مَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُه فَلْيُنْفِقْ مِمَّآ ا?تهُ اللهُ، لَا يُكَلّفُ اللهُ نَفْسًا اِلَّا مَآ ا?ت?ىهَا ، سَيَجْعَلُ اللهُ بَعْدَ عُسْرٍ يُّسْرًا. الطلاق : 7
Hendaklah orang yang mampu memberi nafqah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezqinya hendaklah memberi nafqah dari harta yang Allah berikan kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan (sekedar) apa yang Allah berikan kepadanya. Allah akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan. [QS. Ath-Thalaaq : 7]
Hadits-hadits Nabi SAW :
عَنْ اَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: دِيْنَارٌ اَنْفَقْتَهُ فِي سَبِيْلِ اللهِ وَدِيْنَارٌ اَنْفَقْتَهُ فِي رَقَبَةٍ وَدِيْنَارٌ تَصَدَّقْتَ بِهِ عَلَى مِسْكِيْنٍ وَ دِيْنَارٌ اَنْفَقْتَهُ عَلَى اَهْلِكَ. اَعْظَمُهَا اَجْرًا الَّذِيْ اَنْفَقْتَهُ عَلَى اَهْلِكَ. مسلم 2: 692
Dari Abu Hurairah, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Satu dinar kamu infaqkan fii sabilillah, satu dinar kamu pergunakan untuk memerdekakan budak, satu dinar kamu sedekahkan kepada orang miskin, dan satu dinar yang kamu belanjakan untuk keluargamu, maka yang paling besar pahalanya ialah yang kamu belanjakan untuk keluargamu". [HR. Muslim juz 2, hal. 692]
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص. كَفَى بِالْمَرْءِ اِثْمًا اَنْ يُّضِيْعَ مَنْ يَّقُوْتُ. ابو داود 2: 132، رقم: 1692
Dari Abdullah bin 'Amr (bin Al-'Ash), ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Cukuplah seseorang berbuat dosa, apabila dia mengabaikan orang yang makan dan minumnya menjadi tanggungannya". [HR. Abu Dawud juz 2, hal. 132, no. 1692]
عَنْ خَيْثَمَةَ قَالَ: كُنَّا جُلُوْسًا مَعَ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو اِذْ جَاءَهُ  قَهْرَمَانٌ لَهُ فَدَخَلَ. فَقَالَ: اَعْطَيْتَ الرَّقِيْقَ قُوْتَهُمْ؟ قَالَ: لَا. قَالَ: فَانْطَلِقْ فَاَعْطِهِمْ. قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: كَفَى بِالْمَرْءِ اِثْمًا اَنْ يَحْبِسَ عَمَّنْ يَمْلِكُ قُوْتَهُ. مسلم 2: 692
Dari Khaitsamah, ia berkata : Dahulu ketika kami sedang duduk bersama 'Abdullah bin 'Amr, tiba-tiba datang kepadanya seorang pembantu 'Abdullah bin 'Amr yang mengurusi kebutuhan-kebutuhan ummat, lalu 'Abdullah bin 'Amr bertanya, "Apakah para budak sudah kamu beri kebutuhan makan mereka ?". Pembantunya tersebut menjawab, "Belum". 'Abdullah bin 'Amr berkata, "Berangkatlah, berilah mereka makan". 'Abdullah bin 'Amr berkata : Rasulullah SAW bersabda, "Cukuplah seseorang itu berbuat dosa apabila ia menahan memberi makan orang yang menjadi tanggungannya".  [HR. Muslim juz 2, hal. 692]
عَنْ اَبِى مَسْعُوْدٍ عَنِ النَّبِيّ ص قَالَ: اِذَا اَنْفَقَ الرَّجُلُ عَلَى اَهْلِهِ يَحْتَسِبُهَا فَهُوَ لَهُ صَدَقَةٌ. البخارى 1: 20
Dari Abu Mas'ud, dari Nabi SAW, beliau bersabda, "Apabila seorang laki-laki memberi belanja kepada keluarganya dengan mengharap pahala dari Allah, maka yang demikian itu tercatat sebagai shadaqah". [HR. Bukhari juz 1, hal. 20]
عَنْ اَبِى مَسْعُوْدٍ الْبَدْرِىّ عَنِ النَّبِىّ ص قَالَ: اِنَّ الْمُسْلِمَ اِذَا اَنْفَقَ عَلَى اَهْلِهِ نَفَقَةً وَهُوَ يَحْتَسِبُهَا كَانَتْ لَهُ صَدَقَةً. مسلم 2: 695
Dari Abu Mas'ud Al-Badriy, dari Nabi SAW, beliau bersabda, "Sesungguhnya orang muslim itu apabila membelanjakan hartanya untuk keluarganya dan ia mengharapkan pahala dari Allah, maka ia akan mendapatkan pahala sebagaimana bershadaqah". [HR. Muslim juz 2, hal. 695].

Menjaga persatuan dan menjauhi perpecahan

Menjaga persatuan dan menjauhi perpecahan


Firman Allah SWT :
وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيْعًا وَّ لَا تَفَرَّقُوْا وَاذْكُرُوْا نِعْمَتَ اللهِ عَلَيْكُمْ اِذْ كُنْتُمْ اَعْدَآءً فَاَلَّفَ بَيْنَ قُلُوْبِكُمْ فَاَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِه اِخْوَانًا، وَ كُنْتُمْ عَلى? شَفَا حُفْرَةٍ مّنَ النَّارِ فَاَنْقَذَكُمْ مّنْهَا، كَذ?لِكَ يُبَيّنُ اللهُ لَكُمْ ا?ي?تِه لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُوْنَ. ال عمران: 103
Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan ni'mat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena ni'mat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. [QS. Ali 'Imran : 103]

3/26/2018

Kedatangan utusan dari kabilah Hawazin.

Kedatangan utusan dari kabilah Hawazin.

Setelah Nabi SAW dan pasukan muslimin mundur dari Thaif, orang-orang Hawazin yang ikut bani Tsaqif di dalam benteng Thaif merasa gelisah, karena mereka ingat akan keluarganya (istri dan anak-anaknya), yang berjumlah kurang lebih enam ribu orang berada dalam tawanan kaum muslimin. Maka kaum Hawazin tidak tahan lebih lama lagi mengikuti kaum Tsaqif bertahan di dalam benteng Thaif, sehingga mereka mengirimkan beberapa orang Hawazin keluar dari benteng Thaif untuk bertemu Nabi SAW, yang dikepalai oleh Zuhair Abu Shurad. Mereka berangkat untuk menemui Nabi SAW dan akan mengemukakan beberapa permintaan.
Ketika itu Nabi SAW dan pasukannya sedang berada di Ji'ranah (suatu tempat antara Thaif dan Makkah tetapi lebih dekat ke Makkah), dan barusaja menyelesaikan urusan harta rampasan dan para tawanan yang didapat di Hunain, tiba-tba datanglah serombongan orang-orang Hawazin kepada Nabi SAW dan kedatangan mereka itu untuk menyerahkan diri, mengikut Islam.
Setelah kedatangan dan keislaman mereka diterima oleh Nabi SAW, lalu mereka berkata :
يَا رَسُوْلَ اللهِ، اِنَّا اَصْلٌ وَ عَشِيْرَةٌ وَ قَدْ اَصَابَنَا مِنَ اْلبَلاَءِ مَا لَمْ يَخْفَ عَلَيْكَ فَامْنُنْ عَلَيْنَا مَنَّ اللهُ عَلَيْكَ. ابن هشام 5: 163
Ya Rasulullah, sesungguhnya kami ini satu asal dan satu golongan, dan kami sedang tertimpa bahaya yang tidak tersembunyi lagi bagi engkau, maka berilah kemurahan atas kami, dan semoga Allah memberi kemurahan atas engkau. [Ibnu Hisyam juz 5, hal. 163]

3/25/2018

Tentara Islam menghancurkan berhala Fuls

Tentara Islam menghancurkan berhala Fuls



Pada bulan Rabiul awwal tahun ke-9 Hijriyah Nabi SAW mengerahkan satu pasukan tentara yang berjumlah 150 orang yang semuanya terdiri dari kaum Anshar yang dikepalai oleh ‘Ali bin Abu Thalib ke kota Thayyi’ untuk menghancurkan berhala Fuls, sebuah berhala kaum Thayyi yang terkenal sakti.
Pasukan Islam berangkat dari Madinah, yang seratus orang berkendaraan unta dan yang lima puluh orang berkendaran kuda. Setelah mereka tiba di Thayyi’, kebetulan pada waktu Shubuh, lalu mereka segera bergerak, membakar dan menghancurkan berhala tersebut.
Setelah penduduk Thayyi’ mengetahui bahwa berhalanya yang dianggap sakti dan disembah-sembah itu dibakar dan dihancurkan oleh tentara Islam, timbullah kemarahan mereka hingga terjadi pertempuran antara kedua pasukan. Pimpinan mereka yaitu ‘Adi bin Hatim Ath-Thaiy (ketika itu beragama Nashrani), setelah melihat bendera Islam berkibar, dengan cepat ia melarikan diri bersama keluarganya menuju ke Syam untuk mencari perlindungan.
Perang Thaif


Walaupun perang Hunain telah selesai, dan sebagian tentara musyrikin sudah menyerah, tetapi pengejaran terhadap mereka yang belum menyerah tetap dilakukan pula, karena pimpinan mereka yang tertinggi belum menyerah, bahkan melarikan diri ke Thaif, yaitu Malik bin 'Auf An-Nashriy.
Setelah Nabi SAW mengetahui bahwa Malik bin 'Auf melarikan diri bersama pengikutnya qabilah Tsaqif ke Thaif, dan mereka berlindung di sana, maka beliau memerintahkan kepada tentara muslimin untuk mengejar mereka ke Thaif.

Perang Hunain (lanjutan)

Perang Hunain
(lanjutan)

Setelah 'Abbas menyeru para shahabat yang pernah ikut Baiatur Ridwan dan menyeru pula kepada shahabat-shahabat Anshar, maka para shahabat tersebut pun menyambut baik seruan beliau. Dan setelah Rasulullah SAW melemparkan batu-batu kerikil ke arah orang-orang kafir, maka musuh pun melemah. Dan Allah pun memasukkan rasa takut ke dalam hati orang-orang kafir, sehingga akhirnya mereka terkalahkan dan lari tunggang-langgang meninggalkan medan pertempuran. Kaum muslimin lalu terus mengejar mereka sambil membunuh dan menangkap sebagian dari mereka sebagai tawanan.
Bukhari meriwayatkan :
عَنْ اَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رض قَالَ: لَمَّا كَانَ يَوْمُ حُنَيْنٍ اَقْبَلَتْ هَوَازِنُ وَ غَطَفَانُ وَ غَيْرُهُمْ بِنَعَمِهِمْ وَ ذَرَارِيْهِمْ وَ مَعَ النَّبِيّ ص عَشَرَةُ آلاَفٍ وَ مِنَ الطُّلَقَاءِ فَاَدْبَرُوْا عَنْهُ حَتَّى بَقِيَ وَحْدَهُ فَنَادَى يَوْمَئِذٍ نِدَاءَيْنِ لَمْ يَخْلِطْ بَيْنَهُمَا اِلْتَفَتَ عَنْ يَمِيْنِهِ فَقَالَ: يَا مَعْشَرَ اْلاَنْصَارِ، قَالُوْا: لَبَّيْكَ يَا رَسُوْلَ اللهِ، اَبْشِرْ نَحْنُ مَعَكَ، ثُمَّ اْلتَفَتَ عَنْ يَسَارِهِ فَقَالَ: يَا مَعْشَرَ اْلاَنْصَارِ. قَالُوْا: لَبَّيْكَ يَا رَسُوْلَ للهِ، اَبْشِرْ نَحْنُ مَعَكَ. وَ هُوَ عَلَى بَغْلَةٍ بَيْضَاءَ فَنَزَلَ فَقَالَ: اَنَا عَبْدُ اللهِ وَ رَسُوْلُهُ. فَانْهَزَمَ اْلمُشْرِكُوْنَ فَاَصَابَ يَوْمَئِذٍ غَنَائِمَ كَثِيْرَةً. البخارى 5: 106
Dari Anas bin Malik, ia berkata : Ketika terjadi perang Hunain, maka qabilah Hawazin, Ghathafan dan yang lainnya menghadapi musuh dengan membawa hewan ternak mereka dan anak cucu mereka, sedang Nabi SAW bersama sepuluh ribu tentara dan beberapa tawanan yang telah dilepaskan. Lalu mereka (pasukan muslimin)  mundur dari beliau, sehingga beliau tertinggal sendirian. Lalu beliau berseru dua kali dengan tidak membaurkan diantara kedua seruan itu. Beliau menoleh ke kanan, lalu bersabda, "Wahai kaum Anshar". Mereka lalu menjawab, "Kami sambut panggilanmu, ya Rasulullah, bergembiralah, kami bersamamu". Kemudian beliau menoleh kekiri, lalu bersabda, "Wahai kaum Anshar". Mereka menjawab, "Kami sambut panggilanmu, ya Rasulullah, bergembiralah, kami bersamamu". Dan beliau diatas baghalnya yang berwarna putih, lalu turun dan bersabda, "Aku adalah hamba Allah dan utusan-Nya". Lalu orang-orang musyrik terkalahkan, maka pada hari itu beliau memperoleh rampasan yang banyak. [HR. Bukhari juz 5, hal. 106]

Larangan mempersulit/berlebihan dalam beragama.

Larangan mempersulit/berlebihan dalam beragama . Hadits-hadits Nabi SAW : عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ ص قَالَ: ا...